Sabtu, 13 Maret 2010

bahaya shopaholic

Awas Shopaholic



Bahaya shopaholic (gila belanja) dapat menghancurkan sendi kehidupan rumahtangga. Bagaimana menyikapinya?

Menurut pendapat umum, perempuan dianggap memiliki kecenderungan suka belanja yang melebihi laki-laki, bahkan kerap ada yang menjadi gila belanja (shopaholic). Namun sebenarnya, laki-laki pun tidak lepas dari bahaya kecenderungan ini.

Shopaholic adalah kepanjangan tangan dari kecenderungan konsumtif yang merupakan imbas globalisasi hasil oleh kapitalisme. fenomena ini lantas menghasilkan perubahan kecenderungan hidup masyarakat menjadi konsumeristik-materialistik-hedonistik.

Dewasa ini, gejala yang mengarah kepada kecenderungan ini mulai mewabah dalam masyarakat, khususnya sejak kian rebaknya aneka pusat-pusat perbelanjaan, mudahnya akses konsumen kepada barang, kian terjangkaunya harga barang, dan berbagai faktor lainnya. Terlebih, kini banyak wanita yang mampu berdikari menghasilkan uang, hingga mereka pun merasa bebas mengeksploitasi hasil kerjanya.

Dalam kehidupan rumah tangga, kecenderungan ini sungguh berbahaya. Menurut psikolog Dr Jeanette Murad Lesmana, jika kita mendapati keanehan dalam pola belanjaan pasangan kita, maka sudah saatnya kita segera membicarakan ulang pola pengelolaan keuangan keluarga.

Mungkin pasangan kita, khususnya istri, masih membawa kebiasaan masa lajangnya yang suka belanja, atau bisa juga dia merasa “aji mumpung”, mumpung belum punya anak, sekarang masih waktunya bersenang-senang. Atau juga istri kita adalah tipe yang mengharapkan suami menyediakan segala kebutuhan materi dan keperluan rumah tangga, hingga uang hasil kerja pribadinya yang dilipatkan dengan penghasilan suami menjadi miliknya dan bebas dia gunakan sesuka hati.

Menyikapinya, ada baiknya kita ajak pasangan kita itu untuk membicarakan rencana masa depan bersama. Tidak perlu menyinggung kebiasaan belanjanya, tapi ajaklah dia berdiskusi tentang apa yang ingin dicapai keluarga. Seperti, jika belum punya rumah, pertanyakan kapan berencana akan membeli rumah, dan bagaimana cara memenuhi keinginan itu? Atau juga mendiskusikan kapan akan punya anak, dan apa yang harus dipersiapkan.

Ajaklah pasangan kita menghitung pengeluaran keluarga dan kebutuhan masing-masing. Ajak dia untuk menentukan besar uang yang harus disisihkan, dan berapa sisa yang dapat dibelanjakan. Dengan cara ini, mungkin, pasangan kita dapat mengurangi keinginan belanjanya.

Dalam hal ini, pasangan kita perlu diajak berpikir rasional, dan tidak perlu keras menegurnya, karena bisa jadi dia malah melawan. Segalanya harus dimulai dengan diskusi, bukan berkelahi, karena saling mendengarkan pendapat adalah cara paling tepat untuk mencari solusi.

Terapi agama

Shopaholic juga timbul dari kekeliruan kita dalam memahami kehidupan dunia, misi dan urgensinya, hingga memunculkan kecenderungan duniawi. Dalam buku Aqabât fî Tharîq al-Akhawât (Tantangan bagi Wanita Muslimah), ‘Isham Muhammad Syarif memaparkan kiat mengatasi kecenderungan duniawi ini dengan cara berwawasan benar terhadap esensi dunia. Yakni dengan pewawasan akan rendahnya nikmat dunia dibanding dengan akhirat, dan memahami betapa rendahnya dunia di sisi Allah SWT (Qs. al-Kahfi [18]: 45-46).

Juga dengan memahami bahwa Islam melarang kita untuk berlomba-lomba mencari kehidupan dunia. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah! bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian, akan tetapi aku khawatir kalian dimudahkan dalam mendapatkan kehidupan dunia, sebagaimana orang-orang terdahulu dimudahkan dalam mendapatnya, lalu kalian pun berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba untuk mendapatkannya, sehingga kalian pun akan dibinasakan olehnya, sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR Muttafaq ‘Alaih)

Juga dengan memahami bahwa Islam melarang kita untuk menanamkan rasa cinta kepada dunia di dalam hati. Sebab, itu akan membuat hati kita lalai untuk mencari bekal kehiduan akhirat, dan selalu sibuk dengan urusan dunia, hingga kita pun menjadi budak dunia.

Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya: “Mungkinkah seseorang dikatakan sebagai orang yang zuhud, sedang dia memiliki uang seribu dinar?” Beliau menjawab: “Mungkin saja, dan tanda-tandanya adalah jika uangnya bertambah dia tidak gembira, dan jika uangnya berkurang dia pun tidak bersedih.”

Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu Umar RA: “Suatu ketika Rasulullah SAW menepuk bahuku, kemudian bersabda, “Hiduplah di dunia seolah-olah engkau orang ang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil).”

Lalu, perlu juga kita ingat akan kematian dan kedahsyatan hari Kiamat. Niat yang ikhlas dan keinginan yang kuat untuk tetap konsisten di jalan Allah ini, niscaya akan membuat kita tidak tergoda dengan aneka kenikmatan dunia, bahkan akan membuat kita menjadi lebih khusyu’ dalam beribadah kepada Allah dan bersemangat menjalankan segala perintah-Nya.

Cara lainnya adalah dengan melakukan mudzakarah, melihat dunia dengan mata hati. Andai ini dilakukan, maka nikmat-nikmat dunia akan kita dapati hanya sebagai cobaan, kehidupan dunia juga menjadi beban, kesederhanaan dalam menjalani kehidupan dunia dan qana’ah terhadap yang telah kita pun akan tercipta (Qs. asy-Syu’ara’ [26]: 88-89). (taufiq)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar